Andi Utta', Nahkoda Ulung Kapal Pinisi Bulukumba

Jika ada perlombaan memindahkan gaya manajerial korporasi raksasa ke dalam gerak-gerik birokrasi pemerintahan, Andi Muchtar Ali Yusuf atau yang akrab disapa Andi Utta mungkin adalah juaranya.

Bupati Bulukumba ini bukan sekadar pemimpin biasa, beliau adalah contoh nyata perpaduan antara darah bangsawan, jiwa pengusaha ulung, dan ketegasan ala kapten kapal pinisi.

Terbiasa membangun kerajaan bisnis dari nol membuat beliau paling anti dengan gaya birokrasi yang lambat seperti sinyal internet di dalam gua. Masalah di lapangan harus segera diselesaikan, bukan sekadar dirapatkan sambil minum kopi di warung tetangga.

Prinsip kerjanya terkenal lugas dan membumi: "Dikerja bukan dicerita". Sebuah slogan yang membuat urusan pembangunan fisik di Bulukumba tidak lagi terjebak dalam tumpukan proposal berdebu atau wacana manis di ruang rapat ber-AC.

Sering kali turun langsung memantau pembangunan fisik dan fasilitas publik membuat gaya kepemimpinannya terasa dekat dengan rakyat.

Pembangunan fisik di pusat kota juga mengalami metamorfosis total. Kehadiran bangunan megah seperti Gedung Satu Atap (Satap) Pinisi yang berdiri gagah dengan simbol perahu kebanggaan menjadi bukti bahwa tata kota Bulukumba naik kelas.

Jika kota-kota lain dibangun seadanya, Bulukumba dalam genggamannya disulap layaknya gadis desa yang di balut kain tenun sutra berwarna hitam, namun tetap memegang teguh akar budaya lokal dan berdiri dengan megah dan modern di kancah regional.

Penataan kawasan wisata sekelas Tanjung Bira juga disulap makin representatif, pantai merpati yang dulunya kumuh kini di solek jadi urban beach yang terintegrasi dengan ruang publik dan pusat kuliner.

Beliau tidak mau menjadi nakhoda yang hanya memegang kemudi dari dalam kabin mewah kapal pinisi sambil tidur siang. Jika ada semen yang kurang pas atau pengerjaan yang lambat, naluri pengusahanya langsung terpancing untuk "turun tangan", memastikan anggaran rakyat berwujud bangunan yang kokoh, tuntas, dan berkualitas.

Dulu,,,

Katanya sudah mau menikmati masa tenang sebagai crazy rich rantau, eh, malah "pulkam" (pulang kampung) gara-gara terpanggil ngurus daerah. Ini mah namanya niat pensiun dini, tapi malah ambil pekerjaan rumah seluas satu kabupaten!

Kalau bawahannya lambat merespons program, siap-siap saja mentalnya diuji. Bayangkan rasanya punya bos yang terbiasa deal bisnis miliaran rupiah, tapi harus sabar menghadapi laporan birokrasi yang kadang jalannya mirip siput bunting.

Di bawah kemudinya, Bulukumba yang terkenal dengan tradisi pembuatan perahu Pinisi-nya seolah dipasangi mesin jet. Kapalnya tetap melaju di atas tradisi, tapi kecepatannya bikin daerah lain harus mengelus dada sambil ikutan mengejar ketertinggalan.

​Pada akhirnya, di balik gaya bicaranya yang tegas dan terkadang bikin deg-degan para pejabat malas, terselip kerinduan mendalam agar tanah kelahiran leluhurnya ini terbangun megah. Sebuah kepemimpinan unik yang serius membangun daerah, tapi asyik untuk dijadikan bahan obrolan di warung kopi.

Begitulah kira-kira!

Picture by legionnews.com

0 Response to "Andi Utta', Nahkoda Ulung Kapal Pinisi Bulukumba"

Posting Komentar