Pak Jokowi dan Hujatan
Di satu sisi, ia adalah figur yang dicintai jutaan rakyat, namun di sisi yang lain, ia juga menjadi sasaran empuk kritik tajam, fitnah, hingga hinaan yang tak kenal henti. Baik selama menjabat sebagai orang nomor satu maupun setelah purna tugas.
Bagi banyak pengamat, hal paling ikonik dari pak Jokowi menghadapi cercaan bukanlah kemarahan, melainkan senyuman dan sikap diam. Ketika dihina, difitnah dengan berbagai narasi keji, atau direndahkan martabatnya lewat meme dan ujaran kebencian di ruang digital. Responsnya hampir selalu sama, tarik napas, senyum, dan kembali bekerja.
Sikap ini sering disalahartikan oleh sebagian orang sebagai kelemahan. Padahal, dalam filosofi kepemimpinan Jawa, itu adalah bentuk Nrimo ing pandum yang dibarengi dengan Digdaya tanpa aji, kekuatan batin yang tidak membalas kebencian dengan kebencian serupa.
Ia paham betul bahwa meladeni caci maki hanya akan menghabiskan energi yang seharusnya dipakai untuk merawat bangsa serta membangun peradaban bangsa.
Dari isu garis keturunan hingga tudingan ijazah palsu, serta tudingan kebijakan yang dicitrakan memihak. Pak Jokowi telah menjadi "muara" dari segala bentuk polarisasi politik.
Ruang publik seringkali kehilangan adab, menjadikan ruang-ruang digital tempat di mana martabat seorang manusia dilucuti tanpa rasa bersalah.
Namun, sejarah mencatat bahwa pemimpin besar selalu diuji melalui ketahanannya terhadap badai. Semakin tinggi pohon diterpa angin, semakin kencang pula terpaannya.
Hinaan dan kerendahan yang dilemparkan kepada beliau secara tidak sengaja justru menjadi filter moral publik sehingga bisa membedakan mana kritik konstruktif yang membangun dengan kebencian personal yang destruktif.
Pak Jokowi memilih untuk diam dan tidak membela diri dengan kata-kata berbunga atau emosi yang meledak-ledak. Ia membiarkan jalan tol, bendungan, pelabuhan, pembangunan IKN, hingga pemerataan infrastruktur pelosok negeri yang berbicara.
Ketika orang-orang merendahkannya, ia membalasnya dengan meresmikan fasilitas publik yang dinikmati oleh mereka yang bahkan mungkin ikut mencacinya.
Inilah bentuk balasan paling elegan: membungkam caci maki dengan karya nyata yang abadi.
Pada akhirnya, kisah pak Jokowi dan gelombang hinaan yang menerpanya meninggalkan satu pelajaran berharga bagi kita semua.
Bahwa integritas sejati tidak diuji saat seseorang dipuji, melainkan saat ia diinjak, namun tetap memilih untuk berdiri tegak melayani demi bangsa dan tanah air.
Picture by rm.id

0 Response to "Pak Jokowi dan Hujatan"
Posting Komentar