26 Watimpres Apakah Perlu?

Badai ekonomi global menderu keras, menampar dinding-dinding rumah rakyat yang kian rapuh oleh himpitan biaya hidup. 

Harga-harga pangan merangkak naik, ladang-ladang penghidupan kian menyempit, dan jerit kesusahan bergema di sudut-sudut lorong perkotaan hingga pedesaan. 

Namun, di saat bersamaan, panggung kekuasaan justru menampilkan lakon yang kontras: pak Prabowo Subianto justru melantik 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Sebuah pasukan penasihat raksasa yang masing-masing diguyur fasilitas dan gaji fantastis.

​Angka 76 juta rupiah bukan sekadar deretan digit di atas kertas. Bagi rakyat jelata, itu adalah napas panjang yang bisa menghidupkan asa bertahun-tahun. Namun bagi para pembisik istana, ia menjelma menjadi pelumas mesin birokrasi yang berputar megah di atas puing-puing kecemasan publik.

​Negeri ini tengah berdiri di atas titian rapuh. Di satu sisi, keringat rakyat menetes deras demi menyambung hidup di tengah badai inflasi. Di sisi lain, istana justru membentangkan karpet merah bagi puluhan penasihat, memperbesar lingkaran kuasa dengan jaminan kesejahteraan yang membuat mata terbelalak.

​Bagai gong megah yang ditabuh di tengah padang pasir yang tandus, pelantikan ini memantulkan gema yang menyayat. Suaranya lantang, penuh wibawa formalitas kenegaraan, namun hampa dari empati bagi mereka yang perutnya tengah keroncongan.

​Ketika dapur-dapur rakyat mengepulkan asap tipis penuh kecemasan, meja-meja kekuasaan justru dihidangkan kemewahan berlapis sutra anggaran.

​Ketika rakyat diajar berhemat dan memeras keringat lebih keras, para pembisik diberi jaminan kenyamanan tanpa cemas akan badai di luar sana.
​
​Angka 26 kursi Wantimpres dengan gaji empuk ini menyisakan sebuah tanda tanya besar yang menusuk nurani: apakah nasihat kenegaraan kini harus dibandrol dengan harga semahal itu, sementara telinga kekuasaan kerap tuli pada rintihan bawah?

​Sebuah penasihat yang sejati seharusnya lahir dari kepekaan membaca denyut nadi rakyat yang paling dalam, bukan sekadar mengisi pos-pos nyaman dengan dalih stabilitas politik. 

Sebab, kapal (negara) kita tidak akan selamat hanya dengan menambah jumlah nakhoda di anjungan, jika para penumpang di dek bawah tengah berjuang mati-matian menimba air bah yang kian meninggi.

​Di tengah badai ekonomi ini, sejarah sedang mencatat siapa yang benar-benar mendengar jeritan zaman, dan siapa yang sekadar menikmati gema merdunya kekuasaan dari balik dinding istana yang kedap suara.

Namun kita harus tetap percaya dan yakin bahwa apa yang dilakukan oleh bapak presiden kita adalah semata-mata untuk mewujudkan Indonesia Emas.
 
Picture by Antara

0 Response to "26 Watimpres Apakah Perlu?"

Posting Komentar