Rocky Gerung Masuk Lingkar Istana
Sebut saja Rocky Gerung yang resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Sebuah plot twist politik yang membuat publik tertegun: Dari luar pagar istana meneriakkan kritik tajam, kini duduk di dalam meja lingkar dalam untuk membisikkan pertimbangan.
Bagi penikmat diskursus politik tanah air, nama Rocky Gerung mungkin tidak pernah berada di zona abu-abu. Ia adalah simbol free speech yang vulgar, akademisi yang memilih jalur oposisi kultural, dan orang yang paling rajin memantik diskusi publik dengan istilah-istilah ikoniknya.
Dulu, setiap kata yang keluar dari mulutnya di panggung-panggung seminar atau layar kaca adalah duri dalam daging bagi penguasa.
Kebijakan publik yang pincang dihantam dengan argumen filosofis, logika berpikir diuji, dan tak jarang dibumbui sindiran menohok. Bagi para pendukung pemerintah masa lalu, ia adalah sosok provokatif. Namun bagi para pemujanya, ia adalah pelita akal sehat di tengah kegelapan pragmatisme politik.
Masuknya beliau ke jajaran Wantimpres memunculkan pertanyaan besar sekaligus kekaguman atas kelihaian politik tingkat tinggi.
Apakah sang "Filsuf Akal Sehat" ini telah kehilangan taringnya? Apakah idealisme kritisnya luluh di bawah karpet merah Istana Negara?
Ataukah karena aroma kopi dari dalam istana jauh lebih memikat, dibanding pahitnya kopi jika di terawang dari lensa oposisi. Tapi semoga semua itu salah!
Semoga beliau bisa membuktikan bahwa akal sehat tidak harus selalu berteriak dari jalanan. Menerima posisi sebagai Wantimpres di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo bukan berarti ia membebek pada kekuasaan, melainkan sebuah bentuk pertanggungjawaban moral untuk membawa narasi perubahan dari hulu.
Sebagaimana pernyataan yang ia lontarkan dari balik jas mewahnya, jika ia akan tetap menegaskan posisi dan perspektif kritisnya sebagai sebuah radical break, bahwa nasihat yang diberikan harus berbasis pada akal sehat, bukan asal kamu bahagia "kata Armada.
Transformasi ini mengajarkan kita satu hal tentang indahnya demokrasi yang matang: Kekuasaan yang besar membutuhkan pikiran yang tajam untuk mengimbanginya.
Prabowo Subianto tampaknya tahu persis cara merangkul gagasan. Alih-alih membungkam atau membiarkan kritik berserakan di ruang publik tanpa arah, ia menarik sang kritikus tertajam ke dalam sistem. Ini adalah langkah elegan di mana oposisi tidak lagi dimusuhi, melainkan diajak berdebat dalam satu meja perundingan.
Kini, sang "pemberontak" kata-kata itu telah mengenakan pakaian resmi kenegaraan. Publik tentu menagih: apakah lidah tajam itu akan melunak menjadi pujian, ataukah ia tetap menjadi jangkar penyeimbang yang siap menampar kebijakan yang keliru langsung dari dalam istana?
Waktu yang akan membuktikan, tetapi satu hal yang pasti: panggung politik Indonesia hari ini jauh dari kata membosankan.

0 Response to "Rocky Gerung Masuk Lingkar Istana"
Posting Komentar