Ketika Mahkota Intelektual menjadi Tumpul karena Sentimen.
Sebuah fenomena rumit ketika seorang terpelajar yang berpendidikan tinggi telah kehilangan objektivitasnya. Ketajaman kognitifnya saat membicarakan dinamika politik, terkhusus saat berbicara terkait dengan keluarga pak Jokowi merupakan sebuah realitas sosial-politik yang sangat menarik untuk dicermati.
Seperti halnya, para ahli yang biasanya begitu cermat membedakan fakta dan opini, tiba-tiba dengan mudah menerima desas-desus tanpa konfirmasi selama narasi tersebut menyudutkan target yang sama.
Seakan keadilan prosedural yang biasa diagungkan para sarjana hukum mendadak terabaikan, digantikan oleh vonis publik yang tergesa-gesa.
Sering kali, sosok-sosok yang dalam kesehariannya begitu terbiasa menyusun tesis rasional, menguji data, dan mengedepankan logika ilmiah, seolah mengalami "kebutaan intelektual mendadak" ketika di hadapkan dengan pembahasan mengenai pak Jokowi yang masuk ke dalam ruang diskusi. Dalam psikologi politik, ini sering dijelaskan sebagai bentuk cognitive bias atau bias konfirmasi yang telah mengakar.
Orang-orang cerdas ini ibarat seorang koki bintang lima yang mendadak lupa cara mengukur kadar garam hanya karena memasak untuk orang yang tidak disukainya. Analisis yang seharusnya bertumpu pada indikator yang jernih, fakta yang berimbang, serta asas praduga tak bersalah, sirna berganti dengan prasangka yang sudah disimpulkan terlebih dahulu.
Setiap kebijakan, keterlibatan, atau bahkan ucapan dari lingkar keluarga tersebut tidak lagi dipandang melalui kacamata sebab-akibat yang objektif. Tetapi, apapun yang terjadi, baik atau buruk, relevan maupun jauh dari konteks, langsung ditarik ke satu muara kesimpulan" Semua karena Jokowi."
Nalar kritis yang biasanya menjadi pilar kebanggaan akademik mereka, kini justru berubah menjadi corong jastifikasi atas kebencian yang terselubung.
Inilah yang bahaya, ketika emosi politik atau kekecewaan personal menguasai ruang pikir seseorang, kecerdasan tidak lagi berfungsi sebagai alat pencerah (torch), melainkan berubah menjadi perisai pertahanan (shield).
Orang-orang cerdas tidak lagi menggunakan intelektualitasnya untuk mencari kebenaran yang objektif, melainkan berusaha membangun argumentasi rumit guna membenarkan kebencian yang sudah mereka rasakan sebelumnya.
Pada titik ini, pendidikan tinggi tidak lagi menjamin hadirnya kebebasan berpikir, melainkan sekadar memberikan kosakata yang lebih indah untuk membungkus sebuah prasangka demi membenarkan diri dan kelompoknya.
Picture by seskab

0 Response to "Ketika Mahkota Intelektual menjadi Tumpul karena Sentimen."
Posting Komentar