"Sekolah Rakyat" Perlukah?

Di negeri yang gemar memelihara paradoks, kreativitas para pengambil kebijakan sungguh tak ada duanya. Saat badai krisis ekonomi menghantam dompet rakyat hingga compang-camping, dan para pedagang kecil sibuk menghitung sisa napas usaha mereka.

Pemerintah kembali membuat kebijakan dengan mendirikan sekolah rakyat.

​Sebuah nama yang sangat puitis. Sekilas, ia terdengar seperti oase di padang pasir, tempat di mana anak-anak negeri dari kaum jelata bisa berlindung dan merajut asa.

Namun, mari kita coba bedah sedikit tentang keajaiban ini. Tapi sebelum itu, seruput dulu kopinya!

Di saat harga beras merangkak naik seolah sedang latihan mendaki Everest, dan para orang tua pusing tujuh keliling menghitung sisa uang belanja demi membeli sebutir telur untuk anaknya, pemerintah dengan dermawannya menghadirkan gedung sekolah dengan arsitektur futuristik.

Tetapi, jika kita telusuri lebih dekat dengan mata batin yang sedikit jeli, "Sekolah Rakyat" ini lebih mirip monumen kosmetik, sebuah plester mahal yang ditempelkan di atas luka menganga akibat salah urus keuangan negara.

Sebenarnya idenya sih sangat mulia namun bisa jadi terasa seperti tamparan keras menggunakan sarung tinju berlapis baja jika kita melirik sedikit ke sebelah sana.

Di sudut-sudut pelosok negeri, ratusan sekolah-sekolah lama masih setia menjadi saksi bisu penderitaan dunia pendidikan.

Atapnya bocor menyerupai air terjun musiman, dinding kayunya keropos digerogoti rayap, dan lantai semennya pecah-pecah seolah ikut meratapi nasib.

​Namun, alih-alih merawat yang sekarat, para pandai besi anggaran ini malah memilih membangun istana baru dari nol.

Sungguh sebuah strategi sirkus tingkat tinggi: membiarkan pasien di ruang ICU meregang nyawa, sementara mereka malah sibuk membangun klinik kecantikan megah di seberang jalan.

Pada akhirnya, "Sekolah Rakyat" yang lahir di tengah krisis ekonomi dan di atas penderitaan bangunan-bangunan sekolah tua ini adalah sebuah mahakarya ironi.

Ia berdiri tegak sebagai bukti bahwa kepedulian sosial kini telah bertransformasi menjadi komoditas kampanye paling seksi. Ia berdiri bukan sebagai solusi atas karut-marutnya pendidikan, melainkan sebagai monumen ego bagi mereka yang gemar membangun panggung di atas reruntuhan.

​Para arsitek kebijakan bisa tidur nyenyak di balik meja kerja ber-AC, mungkin mereka merasa telah menorehkan tinta emas sejarah di negeri ini. Sementara itu, di ujung-ujung desa, anak-anak bangsa masih harus berjuang menuntut ilmu di bawah ancaman genteng jatuh, dinding kayu, lantai tanah, serta menunggu giliran kapan nasib baik sudi melirik sekolah mereka yang sudah lama terlupakan.

Bagaimana menurut kalian?

Picture by bayuwangikab.co.id.

0 Response to ""Sekolah Rakyat" Perlukah?"

Posting Komentar